>
wawancara dengan korban gempa bumi Jogja tahun 2006 Dolores Haze : wawancara dengan korban gempa bumi Jogja tahun 2006

Future Machine

Saturday, April 1, 2017

wawancara dengan korban gempa bumi Jogja tahun 2006

Tugas Pengganti Ujian Tengah Semester 4

Nama mahasiswi      : Patricia K W
Nomor mahasiswi    : 15/3****6/SP/2***8
Mata kuliah              : Bencana, Kerentanan, dan Resiko



I.                   Data Narasumber
Tema penelitian
Bencana Gempa Bumi di Bantul, Yogyakarta
Wilayah penelitian
Bantul, Yogyakarta
Nama narasumber
Veronika Mulatsari (Ika)
Tempat, tanggal lahir narasumber
Bantul, 3 Januari 198*
Pekerjaan
Karyawan swasta (resepsionis hotel)
Alamat narasumber
S*** RT *, Kel.Sidomulyo, Kec. Bambang Lipuro, Kab. Bantul, Kota Yogyakarta
Jumlah anggota keluarga narasumber
5 (sudah termasuk narasumber)
Kontak personal
No.HP/telp: 0878*****198
Email: vade_rose@yahoo.com
Tempat, tanggal wawancara
Hotel Vidi (Yogyakarta), 20 Maret 2017
Jam dan durasi wawancara
08:13 WIB; 28.49 menit


\

Transkrip Wawancara:
*Pewawancara (PKW), Narasumber (VM)

KAJIAN DAMPAK SOSIAL
PKW  : Selamat pagi, mbak. Saya Patricia dari  Departemen Sosiologi UGM angkatan 2015. Boleh minta waktunya sebentar untuk wawancara?
VM)     : Boleh.
PKW   : Kapan bencana alam gempa bumi di Bantul itu terjadi?
VM      : 27 Mei 2006 kalau nggak salah lho, dik.
PKW   : Jam berapa ya itu?
VM      : Pagi sekitar jam 5.50.
PKW   : Waktu itu sedang beraktivitas apa, mbak?
VM      : Masih tidur.
PKW   : Bagaimana tanggapan anda mengenai gempa bumi yang melanda di Bantul beberapa waktu     silam? Seperti bagaimana perasaan anda ketika bencana tersebut terjadi?
VM      : Perasaan saya waktu itu bingung, takut, dan tidak tahu apa yang terjadi karena waktu itu saya masih tidur dan kepental dari tempat tidur langsung bangun dan menyelamatkan diri untuk bisa keluar dari rumah.
PKW   : Apakah anda tahu penyebab terjadinya gempa bumi beberapa waktu silam itu?
VM      : Nggak tahu.
PKW   : Apakah ada bencana lanjutan setelah gempa bumi pertama di pagi hari itu?
VM      : Cuma gempa tapi nggak kencang.
PKW   : Ooh begitu… Bagaimana kondisi anda setelah gempa bumi terjadi? Apakah mengalami trauma fisik atau mental?
VM      : Kalau untuk fisik, lutut saya yang luka. Bonyok gitu karena sempat terjatuh waktu lari keluar rumah karena waktu itu kondisinya benar-benar rumah itu goyang dan saya sulit untuk berdiri dan berlari. Kalau trauma mental sempat ketakutan saja dan ketika ada bunyi agak kencang dikit langsung lari dan kaget.
PKW   : Sekarang sudah stabil kan, mbak?
VM      : Oooh sudah.
PKW   : Bagaimana keadaan di sekitar anda saat terjadi bencana gempa bumi? Misal lingkungan, warga, dll.
VM      : Rumah saya rusak parah. Rumah-rumah tetangga juga rusak parah, ada yang sampai rata dengan tanah. Kami waktu itu tidur diluar rumah dengan tenda bantuan selama berbulan-bulan. Kondisi juga waktu itu hujan jadi rumah juga sering kemasukan air karena atap rumah rusak parah. Tidur di dalam rumah juga kami tidak berani, takut ada gempa lagi. Rumah juga nggak layak dihuni. Kami sekampung juga mendirikan dapur umum jadi kami masak bareng-bareng dengan bahan makanan seadanya dari bantuan banyak pihak. Karena kondisi memang tidak ada yang jualan, beli bensin juga susah, kondisinya sangat mencekam waktu itu terutama waktu malam hari setelah gempa terjadi, warga semua siap-siap untuk mengungsi takut terjadi gempa lagi.
PKW   : Setelah terjadi gempa bumi tersebut, apakah anda mengungsi dari daerah tersebut atau menetap? Misal menetap di kamp pengungsian atau rumah orang lain.
VM      : Kami mengungsi ke Turi, Sleman, tempat simbah. Kami pergi tengah malam karena ketakutan tapi saya dan kakak saya pulang ke rumah ya wira-wiri gitu. Saya juga ikut kamp pengungsian bareng-bareng warga sekitar. Bapak-ibu saya yang saya suruh tinggal di Turi untuk sementara waktu. Setelah kondisi sudah aman dan stabil kami semua pulang ke rumah dan tidur di tenda selama berbulan-bulan sampai rumah kami bisa ditempati.
PKW   : Wah, jadi memperat solidaritas ya, mbak?
VM      : Iya, sih.
PKW   : Adakah jam malam saat di tempat pengungsian?
VM      : Ada, sampai jam 21.00 untuk jam kunjung.
ANALISIS EKONOMI (kajian kerusakan dan kehilangan/damage and loses assessment)
PKW   : Maaf, jika boleh tahu, kerugian apa saja yang anda alami beserta keluarga akibat bencana tersebut.
VM      : Yang paling jelas sih kerugian fisik. Rumah kami yang rusak parah dan harus memperbaiki rumah. Atap rumah juga harus diganti semua, tembok-tembok pada retak, ada yang hancur juga. Pokoknya seluruh rumah sampai harus diperbaiki.
PKW   : Apakah ada rumah tetangga yang tidak mengalami kerusakan?
VM      : Kayaknya sih ada.
PKW   : Apakah ada pihak yang menggalang dana dan menjadi relawan? Seperti tim atau kelompok yang memberi bantuan.
VM      : Kalau bantuan itu datang dari berbagai pihak. Ada yang dari gereja, dari kenalan teman-teman, dari kampus, tempat kerja, dan banyak lagi yang memberi bantuan. Bahkan ada tim relawan yang membantu tenaga untuk memperbaiki rumah tapi tidak semua yang dibantu mungkin karena keterbatasan tenaga.
PKW   : Oh begitu… Apakah mereka datang tiap hari? Atau ada jadwal tertentu, mungkin?
VM      : Yang pekerja atau apa?
PKW   : Para relawannya.
VM      : Relawan datang tiap hari sampai rumah warga selesai dibangun.
PKW   : Adakah bantuan dari luar negeri?
VM      : Ada.
PKW   : Dari negara mana, mbak?
VM      : Wah, nggak tahu. Bantuannya tenda mungkin dari Jepang. Sama rumah dome tapi bukan di desaku, tapi itu di daerah Bantul juga.
PKW   : Kebutuhan yang didapat dari para relawan apa saja contohnya?
VM      : Bahan makanan, selimut, baju, tikar, obat-obatan, tenda, indomie seabrek, kebutuhan khusus wanita, dan lain-lain.
PKW   : Adakah kesulitan saat menerima bantuan dari mereka?
VM      : Nggak ada sih, karena dari swasta jadi birokrasinya lebih mudah dan simple. Kalau yang dari pemerintah justru yang agak sulit karena terlalu berbelit-belit dan banyak syarat juga pro-kontra.
PKW   : Oooh gitu ya… Semua kebutuhan pokok terpenuhi dengan baik, kan?
VM      : Puji Tuhan sih nggak kekurangan, walaupun tiap hari harus makan mie instan dan telur.
PKW   : Tiap hari, mbak?
VM      : Iya.
PKW   : Oke… Menurut mbak, pihak siapa saja yang seharusnya terlibat mengurus bencana?
VM      : Warga setempat dan pemerintah.
PKW   : Apakah sudah ada tindakan nyata dari pemerintah mengenai penanganan bencana alam?
VM      : Ada, kok. Waktu itu dengan memberi bantuan untuk perbaikan rumah dan rumah darurat.
PKW   : Apakah ada santunan uang dari pemerintah?
VM      : Ada santunan uang untuk perbaikan rumah dari pemerintah.
PENGHIDUPAN BERKELANJUTAN
PKW   : Sewaktu masa pengungsian, adakah warga yang melanjutkan mata pencahariannya? Atau adakah mata pencaharian baru yang muncul di sekitar anda waktu itu?
VM      : Selama mengungsi sih rata-rata pada nggak mengurus kerjaan. Setelah stabil baru mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Nggak ada mata pencaharian baru.
PKW   : Oke baik. Bagaimana kondisi kehidupan masyarakat sekitar setelah masa pemulihan dan perbaikan?
VM      : Kembali seperti semula.
PKW   : Tidak ada yang mengalami trauma berkepanjangan?
VM      : Nggak ada sih.
KAPASITAS DAN KERENTANAN
PKW   : Apakah anda sudah mengetahui cara menghadapi bencana di masa lalu maupun yang akan datang?
VM      : Ya teorinya sih tahu, tapi pelaksanaannya tetap nggak bisa sesuai teori karena yang namanya orang panik nggak bisa berfikir panjang.
PKW   : Oh, begitu. Kira-kira pelatihan atau seminar gitu dibutuhkan nggak, mbak?
VM      : Mungkin lebih dibutuhkan alat pendeteksi bencana dan pelatihan penggunaannya.
PKW   : Apakah anda akan mengungsi atau menetap jika, amit-amit, ada kemungkinan terjadi bencana lagi di masa mendatang?
VM      : Tidak tahu, semoga tidak terjadi bencana lagi.
PKW   : Ada kesan kah selama mengalami masa kebersamaan senasib-sepenanggungan dan bersama-sama bangkit seusai bencana alam?
VM      : Kesannya ya bisa masak bareng, makan bareng, tiap malam ramai ngumpul sama teman-teman terus tidur di tenda. Diluar nggak enak banget karena takut dingin dan ngeri lah nggak nyaman.
PKW   : Adakah hikmah yang bisa diambil dari pengalaman gempa bumi beberapa tahun silam? Dari sisi agama, sosial, maupun lainnya.
VM      : Hikmahnya ya kita jadi sadar bahwa kuasa Tuhan itu sangat dahsyat. Kita bukan apa-apa kalau Tuhan berkehendak maka bumi ini hanya ‘digoyang’ sedikit saja, apa yang kita punya di bumi ini hancur seketika. Bahkan nyawa pun bisa melayang, kita jadi sadar kalau kita harus banyak berbuat baik dan tidak boleh sombong dengan apa yang kita punya. Intinya gitulah, hehe.
PKW   : Pertanyaan terakhir, ada usulan dan harapan ke depan?
VM      : Tersedianya alat pendeteksi bencana supaya masyarakat bisa bergerak cepat menyelamatkan diri sebelum bencana terjadi.
PKW   : Baik, sepertinya cukup sekian untuk wawancaranya. Terima kasih atas waktu yang diberikan, mbak. Selamat siang, selamat bekerja kembali.

VM      : Sama-sama, dik.

0 bird(s):

 
© Copyright 2009 by Patricia Krisnashanti l Jurnal Patricia l All rights reserved